02 Jul 2020
Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, bertransaksi barang secondhand atau bekas pakai merupakan hal yang lumrah. Ada beberapa faktor yang memengaruhi seseorang untuk memilih produk preloved daripada membeli baru, salah satunya adalah penghematan biaya. Tidak bisa dimungkiri bahwa barang second memang dibanderol lebih murah.
Baca juga: 5 Hal yang Bisa Anda Pelajari Setelah Karantina Mandiri
Transaksi benda-benda second menunjukkan tren peningkatan yang cukup drastis beberapa tahun terakhir. Terlebih didukung oleh teknologi yang semakin maju di mana proses jual – beli lebih praktis melalui jalur daring. Pandangan bahwa membeli produk preloved adalah sesuatu yang memalukan tidak lagi berlaku, khususnya bagi generasi milenial.
Banyak sekali barang bekas pakai yang diminati generasi muda sehingga mudah ditemukan di berbagai platform marketplace maupun sosial media :
Memakai baju dan celana bermerek memberikan gengsi tersendiri yang bagi anak muda menghasilkan kepuasan pribadi. Sayangnya, pakaian branded dibanderol dengan harga cukup tinggi sehingga milenial harus pintar memutar otak. Membeli pakaian preloved bermerek menjadi solusi karena harganya hanya 30 – 50% dari pricetag baru.
Transaksi secondhand ponsel pintar juga sangat populer di kalangan milenial. Terutama untuk gawai keluaran produsen terkenal yang selalu mematok harga selangit. Sedangkan ketika dijual kembali, harganya sudah pasti mengalami penurunan 20 – 30% dari harga awal. Milenial tertarik karena biasanya ponsel dijual belum berselang lama dari pembelian namun lebih murah.
Masih terkait branded yang memang identik dengan milenial. Bukan hanya pakaian bermerek saja yang membangkitkan minat mereka, namun berlaku pula untuk aksesoris. Terutama jam tangan, sepatu, tas dan penunjang penampilan sejenis. Meski lebih mahal dibandingkan preloved pakaian, tetapi peminatnya dari kalangan generasi muda sangat tinggi.
Biasanya beauty vlogger di mana memiliki audiens milenial yang besar suka menjual produk-produk yang sudah selesai di-review. Sebab, tujuan penggunaannya memang bukan jangka panjang. Namun, tentu yang laku juga skincare dengan harga baru yang selangit dan dijual jauh lebih murah meski isinya hanya berkurang sedikit.
Di antara keempat produk preloved populer di atas, mana yang menarik perhatianmu? Jelas sekali memang banderol harga yang cukup drastis di antara produk baru dengan versi secondhand-nya. Contoh, sebuah smartphone dirilis produsen dengan harga Rp20.000.000,- kemudian bekas pakainya ditawarkan hanya dengan Rp18.000.000,- saja. Lumayan sekali, ‘kan?
Namun, apakah membeli produk preloved memang akan membantumu dalam menghemat anggaran secara signifikan? Coba pikirkan lagi, karena barang bekas memiliki risiko :
Gambling alias bertaruh atas kondisi barang bekas yang dibeli berlaku untuk transaksi langsung maupun daring. Tidak jarang, barang preloved tak ubahnya membeli kucing dalam karung. Tampilannya tampak baik, namun ternyata bagian dalamnya tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bisa jadi sudah rusak namun dipoles agar kelihatan layak dan tidak terdeteksi.
Barang secondhand sangat rentan mengalami kerusakan, bisa jadi akibat umur atau intensitas penggunaan. Ada yang dapat diperbaiki, namun itu berarti menambah pengeluaranmu. Di sisi lain, tidak jarang kerusakan terlalu parah sehingga membuatmu menghabiskan dana secara sia-sia, bahkan meskipun harganya lebih murah dari versi baru.
Salah satu alasan pemerintah memilih tidak melegalkan transaksi preloved di pasar terbuka adalah potensi penularan penyakit. Terlebih dengan adanya COVID-19 yang belum ditemukan vaksinnya dan memiliki kemampuan melekat di permukaan benda dalam kurun waktu cukup lama seperti saat ini. Kamu bisa rugi waktu, dana dan tenaga jika sampai terjadi.
Tidak berlebihan bukan kalau menyarankan kamu untuk memikirkan ulang rencana transaksi barang-barang secondhand? Sebenarnya, tidak masalah membeli produk preloved, namun lebih baik melalui transaksi tatap muka dan disertai dengan garansi saja agar tidak sampai tertipu. Lantas, bagaimana kalau kamu ingin membeli barang firsthand tapi terbatas dana?
Salah satu alasan untuk membeli barang-barang second, sebagaimana sudah disinggung di atas, memang bertujuan untuk menghemat dana karena harga baru produk yang selangit. Namun, tidak berarti preloved merupakan satu-satunya jalan keluar. Kamu bisa mendapatkan barang impianmu melalui cara menabung yang asyik yaitu investasi emas dari IndoGold.
Tidak perlu mengernyitkan dahi karena sekarang sudah hadir solusi berinvestasi yang tidak membuatmu pusing karena sistematikanya sama dengan menabung. Akan tetapi, objek simpanannya bukanlah uang, melainkan logam mulia emas. Kamu pasti sudah tidak asing dengan emas sebagai objek investasi populer, ‘kan?
Diciptakan untuk generasi milenial yang serba fleksibel dan praktis sepertimu, program menabung emas di IndoGold merupakan solusi meraih impian dengan cara menabung yang unik. Jadi, kamu menyetorkan dana, lalu dikonversi menjadi emas sesuai dengan nilai real time yang tertera. Simpananmu bisa ditambah, dijual, juga ditarik dalam bentuk emas batangan antam.
Konsep yang pasti membuatmu tertarik untuk mencoba, ‘kan? Apa saja persyaratan untuk mengikuti program menabung yang seru ini?
Mudah sekali bukan persyaratan yang diterapkan? Apalagi, kamu tinggal mengunduh aplikasi IndoGold di ponselmu untuk melakukan transaksi secara lengkap. IndoGold sendiri merupakan perusahaan investasi emas yang telah beroperasi sejak lebih dari dua puluh dekade dan terdaftar sebagai anggota OJK. Jadi, kamu tidak perlu was-was terkait keamanan transaksinya.
Dengan menggunakan investasi IndoGold, kamu bisa menggunakan profit yang didapatkan untuk membeli barang apa pun yang diinginkan secara firsthand tanpa khawatir lagi akan biaya. Asyik banget, ‘kan? Selain membeli produk-produk yang diinginkan, kamu juga tetap bisa memiliki tabungan sebagai jaminan hari tua berkat manfaat investasi yang terus berjalan.
Baca juga: Ide Bisnis yang Berawal dari Hobi ini Bisa Anda Coba